 | CERMIN | Apr 16, 2007 |
JIKA AKU SEBUAH GENERATOR, HANYA BEBERAPA WATT YANG MAMPU AKU HASILKAN. NAMUN SEMOGA ENERGI KECIL INI, ADALAH LAMPU KECIL DI SEBUAH KAMAR BELAJAR, YANG DENGAN NYALANYA IA MEMBERIKAN "AUFKLARUNG, RENAISSANCE, ENLIGHTMENT--- MEMBUAT BUKU-BUKU KARYA ORANG BESAR MENJADI TERBACA TERANG, MEMBUAT TANGAN ANDA MEMBERI GARIS LURUS YANG TEPAT PADA SAAT MENGGARIS BAWAHI SEBUAH KALIMAT YANG PENTING,
Aku si Kecil, tetapi bolehlah untuk bercita-cita mampu untuk ENERGIZING ATAU INSPIRING INDONESIAKU, atau ikhwan-ikhwanku dan Jiran-jiranku.
Salam kontak saya di -- akmal.akmal@gmail.com atau axl_lutfi@yahoo.com.
Hari ini anggota DPRD Kabupaten Purbalingga dilantik. Saya sebagai salah satu warga Purbalingga ingin mengucapkan selamat. Semoga mampu menjalankan tugas sebagai penyambung lidah rakyat bisa dijalankan tanggung jawab, amanah dan berdedikasi.Jabatan yang rumit karena harus mampu menjalankan representasi atas keinginan banyak orang, berhati lapang, banyak mau mendengar dan mampu mengerti maunya orang.. Izinkan saya bercerita mengenai beberapa hal yang mungkin bisa menjadi renungan kita semua. Mencoba melihat kedudukan dari banyak sisi, multi-dimensi, hitam dan putih. Tentunya berharap pilihan dari sisi terang yang lebih banyak diambil. Amanat: Cara melihat kedudukan. Dalam suatu jabatan selalu mengandung dua hal, kewajiban dan hak. Kewajiban memuat sejumlah beban tugas yang harus diselesaikan. Seorang senator memiliki tiga tugas pokok, yaitu legislasi, bugdeting dan controlling Legislasi berkaitan proses pembuatan perundang-undangan. Proses legislasi ini menjadi persoalan krusial, karena banyak pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perundang-undangan, atau Perda. Apa yang sering kita lihat, proses legislasi ini seringkali menjadi pertempuran yang sesungguhnya, banyak mafia kapitalis berusaha merecoki para wakil rakyat agar kepentingan mereka terakomodasi, dan kadang “pesan” para lobbyer ini bertentangan dengan kepentingan rakyat. Kualitas sebagai wakil dengan mudah dilihat pada saat proses legislasi, mereka cenderung berpihak pada siapa, yang benar atau yang bayar. Bugdetingpun menjadi sangat penting. Karena “darah” jantung pembangunan berpusar di persoalan bugdeting. Saya jadi ingat sebuah tulisan (entah dimana) yang menyatakan kenapa Indonesia saat ini ketinggalan jauh dibanding dengan malaysia dan Korea Selatan. Konon sumber masalahnya ada pada perbedaan “kebijakan penganggaran”. Korea Selatan dan Malaysia, sejak negara tersebut merdeka, telah menganggarkan pos pendidikan di atas 20%. Sementara di Indonesia pada awal kemerdekaan memiliki anggaran pos pendidikan hanya 3,5% saja. Dan saat ini kemajuan industri maupun Human Development dua negara tersebut jauh di atas negeri kita. Makanya pelajaran “seni menganggarkan” saya kira menjadi pelajaran penting untuk anggota parlemen. Controlling. Tepatnya controlling dan evaluating. Melihat, mengkaji,menilai tingkah laku esekutif, kualitas pekerjaan, apakah tugas telah dijalankan dengan baik atau tidak, pada saat ini proses itu berjalan maupun pada saat prosesnya telah selesai. Mungkin kalimat ini jadi klise, yang lebih pantas diucapkan di pengajian-pengajian, tetapi kata-kata ini tetap saja relevan, “lihatlah jabatan (lebih) dari sudut pandang amanah, ketimbang dari sudut kedudukan”. Karena melihat jabatan dari sudut kedudukan orang akan berfokus pada hak, sehingga yang terjadi adalah kesombongan, kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Jika melihat jabatan dari sudut pandang amanah, maka semua lebih difokuskan pada kewajiban, lebih memperhatikan hak-hak orang lain, terutama hak-hak orang yang diwakilinya. High-cost politics: Biaya perjuangan vs modal ekonomi Orang berharap ada nilai-nilai baik dari keputusan MK yang menetapkan anggota parlemen berdasarkan suara terbanyak. Tentu ini kemajuan, karena prinsip mayoritas memang menjadi “nilai prinsip” dalam demokrasi. Tetapi ternyata ada ekses buruk yang tidak kalah berefek buruk buat demokrasi itu sendiri. Dalam kondisi “ideal” suara terbanyak harus sejalan dengan nilai-nilai kedaulatan, yaitu ketika rakyat menyerahkan sebagian nasibnya pada anggota parlemen karena ikatan moral, rasa saling percaya. Tetapi yang terjadi adalah daging sapi di level grass-root. Padahal dahulu istilah dagang sapi lebih sering kita dengar pada saat presiden menentukan menteri-menterinya. Orang baik, amanah, memiliki kompetensi, tetapi memiliki sedikit uang, hanya tersedia kesempatan kecil untuk duduk di parlemen. Orang culas, dungu, tetapi banyak uang memiliki kesempatan yang lebih besar daripada orang yang amanah tapi miskin. Apakah demokrasinya salah, saya kira tidak, karena demokrasi memang tidak membicarkan moral, tetapi bicara suara terbanyak. Yang menjadi kekhawatiran adalah biaya tinggi dalam proses pencalonan memicu anggota parlemen menjadi koruptif. Segala cara dipakai untuk menutup biaya. Menjadi penting adalah anggota parlemen harus “membrainstorming” diri sendiri agar mengubah pandangan atas biaya yang dikeluarkan dalam pencalonan sebagai “pengorbanan dalam perjuangan” bukan sebagai biaya ekonomi, atau ongkos produksi seperti yang biasa diterjemahkan oleh perusahaan berorientasi “profit”. Mungkin nggak ya, berpikir seperti itu? Keadilan: Pemilih vs konstituen Saya pernah bertemu beberapa orang yang saya tidak sepaham dalam menerjemahkan makna “konstituen”. Benar atau tidak, buat saya, konstituen adalah seluruh rakyat yang ada di dalam suatu dapil yang harus diwakili oleh seorang wakil rakyat di parlemen. Konstituen, basic pemahamannya adalah kewilayahan. Sementara pihak ada yang menerjemahkan konstituen adalah orang yang memilih dirinya dalam pemilihan umum. Seolah-olah seorang warga tidak boleh titip aspirasi terhadap anggota dewan yang tidak dipilihnya. Atau dewan boleh tidak peduli terhadap aspirasi seseorang yang tidak memilihnya. Masalahnya adalah wakil rakyat harus mewakili rakyatnya di distrik yang diwakilinya tanpa mempedulikan partai, usia, atau apapun. Wakil rakyat harus peduli terhadap balita, orang gila, anggota TNI / Polisi meski mereka tidak memiliki hak pilih dalam pemilu. Kata kawanku, “tulisan ini mah biasa, gak ada isinya” Maknya, however, congratulation. Do the best for Indonesia. Beberapa tahun berada di sebuah perusahaan farmasi memberi saya beberapa pengetahuan mengenai penyakit maupun obat-obatan. Dengan latar belakang yang bukan medis atau farmasi, belajar “obatan-obatan” sepertinya mengerikan, tetapi dengan keterpaksaan karena pekerjaan, lambat-laun belajar hal seperti menjadi makanan biasa. Salah satu yang saya pelajari adalah obat-obatan untuk Schizoprenia (gangguan jiwa). Dalam kondisi normal, pada saat panca indera menerima rangsang, melalui serabut-serabut syaraf, rangsangan itu akan diteruskan menuju otak. Selanjutnya otak akan merespon dengan tindakan seperlunya. Serabut syaraf (neurotransmiter) itu berupa enzim yang dikenal sebagai dopamin maupun serotonin. Dua enzim ini menjadi penghantar yang penting dalam transportasi antara indra dan otak. Dalam kondisi berpenyakit (patologis), jumlah dopamin dan serotonin ini bekerja secara berlebihan. Sehingga ada kegagalan / kesalahan mentafsirkan rangsang yang dikirim ke otak. Akibatnya otakpun membuat salah tafsir terhadap suatu moment. Karena yang salah tafsir otak, maka akibatnya perilaku orang tersebutpun akan tidak normal. Dalam kondisi yang parah biasanya akan tampaknyata sebagai gangguan kejiwaan (schizoprenia). Schizoprenia secara etimologis dimaknai sebagai pecahnya kepribadian Schzipronia pun akan berbentuk bermacam-macam baik yang disebut schizoprenia positif dan negatif. Yang positif ditandai dengan sikap yang lebih agresif (mengamuk) atau menyerang. Yang negatif biasanya cenderung menarik diri, paranoid, megalomania. Ketakutan terhadap hal-hal yang di luar nalar atau justru khayalan dirinya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal (membayangkan dirinya raja dsb). Dikenal pula istilah Delusi (waham), suatu keyakinan palsu yang dipertahankan mati-matian. Halusinasi, yaitu suatu persepsi seolah-olah sesuatu itu nyata padahal hanya hayalan belaka. Ada satu film yang sangat baik untuk menggambar realitas dari sudut pandang dari sisi seorang penderita kejiwaan, film tersebut berjudul “beautiful mind”. Menggambarkan seorang ahli matematika bernama John Forbes Nash, dirinya merasa bahwa dirinya adanya seorang agen FBI, yang bertugas memecahkan suatu kode. Dalam khayalannya, ia memiliki seorang penyelian bernama charles yang kemanapun mengikutinya. Di dalam film digambarkan ia melakukan banyak pekerjaan cerdas yang tidak pada semestinya. Karena ternyata gangguan jiwa tidak menghilangkan kecerdasan atau ketrampilannya. Cuma dalam implementasinya kecerdasan atau ketrampilan diterapkan pada tempat-tempat yang salah. Di depan isterinya ia mulai menjadi orang yang aneh, ia mulai melakukan klipping berbagai macam majalah dan koran, untuk mengindetifikasi berbagai tugas yang diembannya. Dengan berbagai hal ia alami, ia beruntung memiliki seorang isteri yang sabar, yang senantiasa memberikan obat secara teratur . Bahkan suatu hari John Forbes Nash akhirnya dinobatkan sebagai seorang profesor matematika. Charles, supervisor yang ada dalam khayalannyapun sebenarnya masih menampakkan diri (dalam bayangan nash), termasuk ketika ia diwisuda sebagai profesor. Tetapi berkat obat dan keyakinan yang ditanamkan oleh isterinya, Nash diyakinkan bahwa bayangan yang dilihatnya itu tidak riil. Pengalaman saya sebagai seorang marketer di bidang farmasi, akhirnya saya tahu bahwa obat-obatan gangguan jiwa banyak diresepkan oleh dokter untuk pecandu narkotika. Akhirnya saya tahu ternyata pecandu narkobapun bisa memiliki gejala yang sama dengan gangguan jiwa, terutama gejala paranoid (merasa dikeja-kejar atau diancam seseorang). Dengan kata lainnya, pecandu narkoba yang parah akan berkembang menjadi gangguan jiwa. Saya pernah mengunjungi sebuah klinik pengobatan narkoba di Surabaya di daerah tenggilis. Yang di luar dugaan saya, ternyata di sana juga disediakan sel seperti ruang tahanan lengkap dengan jeruji dan gembok. Sel ini disediakan untuk penderita kecanduan narkoba yang sangat parah. Dan biasanya pada tahap awal harus dimasukan sel karena merusak dan menyerang penderita yang lain. Dengan seorang penderita yang sudah mulai pulih sempat berbincang mengenai awal memakai narkoba. Dia menceritakan bahwa awal ia memakai narkoba karena ia dirayu kawannya untuk menelan suatu pil. Ia mengatakan bahwa waktu di Amerika ia sempat memakai narkoba hebat yang bisa membuat semua khayalannya menjadi riil. Setelah pakai narkoba ia biasanya memilih jalan kaki di keramaian. Karena di bawah pengaruh narkoba, seolah semua wanita yang dilihatnya telanjang bulat, sehingga dengan leluasa bisa melihat tetek dan m***k-nya bule, katanya. Rehabilitasi terhadap pemakai narkoba biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun. Pendampingan mutlak diperlukan. Tanpa itu, biasanya akan sangat mudah untuk jatuh kembali ke dalam jurang narkoba. Dan kalaupun nantinya pulih biasanya masih belum bisa 100% berpikir sehat, karena memang pengaruh narkoba langsung menusuk di pusat koordinasi manusia. Ada semacam kata-kata mutiara di kalangan pengedar “kalau jadi pengedar sekaligus jadi pemakai biasanya bisnis narkobanya akan bangkrut dengan segera”. Masuk akal saja karena memang keputusan untuk pakai narkoba sendiri sebenarnya merupakan keputusan yang tidak sehat, apalagi keputusan yang diambil setelah jadi pemakai. Makanya sebenarnya hal yang memprihatinkan bahwa ada seorang anggota legislatif di DPRD Jateng yang tertangkap kasus Narkoba. Orang-orang yang digadang-gadang mampu menjadi penyambung lidah rakyat justru asyik dengan dunianya yang semu. Dan saya yakin fenomena anggota DPR pakai narkoba merupakan fenomena gunung es, satu di puncaknya, berjibun di lembahnya. Dengan apa yang saya ceritakan akan menjadi aneh, apabila tugas pokok DPR ( legislasi, controlling, bugdeting ) diserahkan pada orang-orang yang hidup di angan-angan. Harus merupakan harga mati untuk tidak memberi kesempatan lagi kepada insan-insan yang terlibat narkoba untuk turut mengambil keputusan yang berpengaruh pada kemaslahatan umat. Selanjutnya dalam promosi jabatan-jabatan publik, pencalonan pejabat, bahkan orang yang tengah menjabat jabatan politik, point “bersih dari narkoba” menjadi poin penting agar kebijakan publik tidak dibuat oleh orang-orang yang sesungguhnya sedan sakit. Dalam UU pilpres no. 42 tahun 2009, tentang Pilpres mengamanatkan agar beberapa pihak dalam pemilu harus bersikap netral. Diantaranya TNI Polri, perangkat desa, anggota BPD dan PNS. Pihak-pihak di atas dalam kampanye harus bersikap pasif, hanya sebagai peserta bukan sebagai pelaksana ataupun petugas kampanye. Itupun masih harus disertai syarat tambahan, antara tidak mengenakan seragam dinas, atau seragam partai / pasangan capres, tidak menggunakan kendaraan dinas dan tidak memobilisasi sejawatnya atau bawahannya. UU No. 43/1999 tentang pokok-pokok kepegawaian dengan jelas ditegaskan mengenai keharusan bersikap netral terhadap semua golongan dan parpol serta tida bersikap diskriminatif dalam memberikan pelayanan publik. Beberapa hal cukup mengganggu penerapan netralitas PNS ini, diantaranya; Satu, dalam struktur masyarakat Indonesia, PNS menempati posisi yang tinggi dalam struktur sosial masyarakat. Ini bisa dimengerti di negeri yang belum terlalu maju ini, PNS termasuk sebagian kecil masyarakat yang memiliki akses informasi yang luas, Up grade pengetahuan yang berkesinambungan dan memiliki penghasilan di atas rata-rata masyarakat Indonesia. Mereka adalah Patron yang kata-katanya dan perbuatan menjadi "model" bagi lingkungannya. Posisi yang penting ini cukup menggoda beberapa pihak untuk memanfaatkannya untuk kepentingan yang sifatnya partisan. Dan menggunakannya sebagai "vote getter" di masyarakat tertentu. (Pola ini mungkin tidak efektif di perkoataan, tetapi bukankah Indonesia lebih banyak desanya?}. Kedua, PNS merupakan pekerja resmi yang memegang kunci pengelolaan APBD, dan pengelolaan berbagai harta negara. Banyak pihak yang tergoda untuk memanfaatkan PNS agar Timses memperoleh kemudahan dalam memanfaatkan fasilitas negara dalam berkampanye. Ketiga, Vested interest PNS terhadap proses politik. Ketidaknetralan PNS dalam pemilu bisa jadi merupakan suatu barter politik dengan pihak-pihak tertentu, akan akan berkonsekuensi imbalan di kemudian hari, baik dalam bentuk jabatan maupun bentuk lainnya. Atau bisa juga ada ancaman tertentu yang dilancarkan kepada PNS bila tidak mendukung salah satu partai / pasangan Capres. Keempat, Bagaimanapun seorang PNS juga memiliki preferensi terhadap suatu partai / Capres. Karena gerah cuma jadi penonton, barangkali mengekspresikan dukungannya menjadi berlebihan dan melupakan netralitas. Karena itulah PNS sesungguhnya tengah membutuhkan pencerahan, yang tidak sekedar berkutat pada "vested interest" an sich. Tetapi perlu menarik ke dalam diri apa "filosofi" posisi mulia dibalik netralitas. Pada jaman orde lama PNS diberikan kesempatan seluas-luasanya untuk turut serta dalam proses politik. Kepadanya diberikan kesempatan seluas-luasnya, bahkan untuk meniti karier di lembaga legislatif hingga tingkat pusat. Pada Jaman order lama, PNS digiring dalam kandang monoloyalitas yang mengharuskan PNS menjadi anggota Golkar (pada saat itu emoh disebut partai politik). Loyalitas menjadi ukuran nomor satu untuk menjadi jabatan tertentu. Birokrasi yang ditakar dengan ukuran-ukuran partisan membuat birokrasi menjadi mandul, sarat kepentingan, korupatif, dan tentu saja tidak efisien. Belajar dari itu, lahirlah pemikiran yang mewajibkan PNS harus netral. Undang-undang pemilu melarang PNS menjadi pelaksana dan petugas kampanye. Pelanggaran terhadap larangan itu merupakan tindak pidana pemilu yang sangsinya adalah penjaran dan sejumlah denda. Namun sebenarnya lebih penting dari itu Netralitas ini perlu dipahami lebih mendalam oleh kawan-kawan PNS dalam pengertian-pengertian sebagai berikut; Pertama, Netralitas sudah diundangkan dalam berbagai bentuk undang. Netralitas bukan lagi masalah yang sedang diperdebatkan,sehingga "ketidaknetralan" PNS dalam pemilu bisa dikategorikan sebagai "pembangkangan hukum" Kedua, Netralitas diberlakukan dengan tujuan agar PNS lebih memikirkan kepentingan masyarakat banyak daripada kepentingan partisan. Sehingga sikap "berpihak" merupakan "pengkhianatan" terhadap amanat. Ketiga, UU pemilu (UU no. 10/2008 dan UU no. 42/2008) menyatakan bahwa keikutsertaan PNS sebgai petugas kampanye atau pelaksana kampanye merupakan tindak pidana pemilu yang penyelesaiannya harus lewat proses hukum di kepolisian. Hal itu bermakna sikap partisan sesungguhnya merupakan "kejahatan" politik. Dengan begitu Netralitas PNS adalah bagian dari resiko PNS, dan bukan untuk ditawar. (pernah disampaikan oleh penulis dalam sebuah seminar di Purbalingga) Sekitar 3 tahun lalu saya sedang berada di Puncak Cianjur, ada kawan dari kota Jakarta yang menanyakan kepada saya apakah saya memiliki uang cash sebesar Rp. 300.000. Saya jawab ya. Kemudian dia mengatakan ingin meminjam pada saya. Dan saya meminjamkannya sebesar yang dia minta. Karena ybs berasal dari kota yang berbeda, maka saya bertanya bagaimana dan kapan dia akan mengembalikannya. Kemudian dia meminta nomor rekening yang saya miliki. Saya bersama dia melanjutkan duduk sambil menikmati udara yang menusuk tulang, dan tangannya tidak lepas dari handphone. Sejurus kemudian dia menunjukan kepada saya satu sms. Akhirnya saya tahu ternyata sms itu berasal dari sebuah layanan banking. Isinya mengatakan bahwa telah ditransfer uang sebesar Rp. 300.000, pada rekening yang saya miliki. Saya yang belum pernah mencoba (atau malah tidak tahu) melihat hal itu sebagai “miracle abad 21”. Dan saya bertanya mengenai layanan itu (electronic banking apa ya?). Tetapi teman metropolis ini cuma menjawab, “kita tidak hidup di jaman flinstone, Bro!”. Saya teringat cerita versi 87-90, saat di tempat saya booming intercom. Semua orang rela berlama-lama hanya untuk bicara berjam-jam, berbusa-busa. Kadang-kadang merupakan pembicaraan penting, dan lebih banyak omong kosongnya. Bahkan saya teringat saat itu almarhum bapak saya mengisi pengajian tiap malam jumat di jaringan intercom. Hal yang lucu untuk dibicarakan hari ini bagaimana orang bicara keranjingan, yang kalau dibahas hari ini, orang jadi ketawa dan mempertanyakan alangkah kunonya saat itu. Ada beberapa peristiwa yang saya ingat yang terjadi pada masa booming intercom. Kejadian yang saya ingat saat itu yaitu terjadinya beberapa kasus perkelahian yang diakibatkan rebutan bicara, atau rebutan bendrat. Maklumlah di jaringan intercom ini memang tidak bisa dua orang bicara bersamaan, jadi harus bicara bergantian, sehingga setiap selesai bicara harus bilang roger atau “ganti”. Era itu juga ditandai dengan terbentuknya beberapa komunitas yang terbentuk dari solidaritas sesama pemakai intercom. Sewaktu saya bekerja pertama kali di tahun 96, saat itu saya punya alat “canggih” yang disebut pager. Dan saat itu sangat gaya bila di pinggang kita terselip benda ajaib itu .Yang ganjil dari pager ini kadang merasa malu kalau kita kirim pesan via pager, apalagi bila pesannya agak “private”. Karena protokolernya pesan itu harus melalui operator terlebih dahulu. karena sifat pager yang kurang “private”, membuat orang saat itu membayangkan suatu jaman dimana orang mengirim berita mirip pager tanpa melalui percakapan operator. Sampai masuknya era telepon tanpa kabel, permintaan orang akan privasi pesan singkat belum terlayani. Dan ketika semua kebutuhan itu terpenuhi dengan adanya fasilitas sms, saya berpikir ini adalah jaman paling mutakhir yang mana teknologi komunikasi rasanya tidak bisa dikembangkan lebih maju lagi. Final. Ternyata tidak, abad 21 ini rasanya moment “penemuan” ini terjadi tiap hari. Selalu ada penemuan baru yang membuat sehari saja tidak mengikuti kita langsung dicap “jadul”. Jutaan orang terhenyak, ketika Obama berkampanye untuk Pilpres Amerika, sekaligus secara tidak langsung mengkampanyekan situs pertemanan berjuluk “face book”. Hari ini konon pemakai facebook di Indonesia sudah tembus 30 juta, padahal pada bulan Januari Akun fesbuk Indonesia baru 1 juta orang. Para netter mau tidak mau tergoda untuk mencoba fesbuk, sehingga situs jejaring yang lain jadi sepi. Millist e-mail, blog, sepi penulis dan sepi pengunjung. Termasuk blog yang saya miliki dilanda sepi juga. Setiap tulisan yang saya keluarkan lewat blog, jangankan diberi komentar, dibaca orang aja kagak. “Perubahan selalu mendatangkan kegelisahan”. Bahkan Ronggowarsito konon pernah dibuat terkejut terkencing-kencing, ketika bumi Jawa dibanjiri nilai-nilai baru (Islam dan Barat, yang berbeda dengan pemikiran lama /Jawa). Dia sempat berujar, “jaman iki jaman edan”. Statement kegelisahan terhadap perubahan. Hari ini salah satu bentuk kegelisahan adalah munculnya fatwa haram terhadap facebook. Berbagai alasan dampak negatif dipaparkan. Dipihak lain pun, tak kalah sengitnya untuk memaparkan nilai positif dari fesbuk ini. Menurut saya polemik ini berakhir pada saat orang terbiasa dengan fesbuk. O ternyata fesbuk cuma begini to. Teman saya yang cinta mati terhadap fesbuk enteng saja bicara, “Fesbuk haram hukumnya kalau fesbuk bisa dimakan….”. Bagaimana menurut anda? (everybody can contact me via facebook by typing axl_lutfi@yahoo.com in fb search bar)
Pasca penetapan pasangan Capres-cawapres untuk Pilpres 2009 disertai penetapan nomor urut pasangan, para calon ini nampaknya mulai terbius dengan mistik angka. Bahwa angka nomor urut dari masing-masinglah yang paling “bernilai”. Yang nomor urut satu mengatakan, nomor “1” adalah nomor para pemenang. Yang terbaik selalu dianggap nomor satu. Yang nomor urut 2 mengatakan, dalam tradisi pemilu kalau pilih angka ya contreng di tengah dong. Jangan contreng di pinggir nanti bisa tidak syah. 2 angka di tengah, angka yang adil berdiri di atas semua golongan. Yang nomor 3 bilang, angka 1, adalah orang yang pada masa lalu jadi presiden, yang angka 2 adalah orang yang hari ini jadi presiden. Angka 3 adalah presiden masa datang yang harus dipilih dalam pilpres 2009. Kesimpulan, pembicaraan tentang angka adalah gothak-gathik mathuk. Tidak ilmiah dan membenarkan diri-sendiri. Saya sendiri punya pengalaman buruk tentang angka 1, 2 dan 3. Angka 1. Saya orang yang bernama huruf awal a, waktu masih sekolah atau kuliah selalu diabsen pertama, (kalau bolos cepat ketahuan). Kalau ada soal yang sulit dikerjakan biasanya pertama kali yang dipanggil yang absennya “1”. Biasanya kalau mengerjakan soal gelagapan, karena biasanya orang yang ditunjuk pertama tidak punya kesempatan belajar dari teman-teman yang nomor absennya belakangan. Kalau teman-teman ikut pengujian thesis atau skripsi, jangan ambil giliran pertama, tapi ambilah giliran yang terakhir pada saat si Dosen sudah lelah, sehingga akan dapat giliran pertanyaan yang apa adanya, demi formalitas dan pertanyaan bodoh lainnya yang diajukan pada saat dosen sudah kantuk. Angka 2. Saya pernah ditanya orang. “apa puncak tertinggi di dunia?”, saya jawab, “Mounth Everest!”. “Terus puncak tertinggi ke-2 ?”, saya jawab, “saya tidak tahu”. Kata dia, “begitulah kalau jadi nomor 2, "tidak dikenal!", bahkan dalam pertandingan, juara ke-2 sesungguh dialah pecundang yang pertama”. Angka 3. Saya punya anak 3. Suatu hari bersama-sama bekerja bhakti dengan anak ke-3 untuk menata baju yang morat-marit. Akhirnya tahu bahwa anak saya ke-3 ini koleksi bajunya paling banyak dibanding kakak-kakaknya. Sekilas nampaknya sih bangga, tetapi ia mulai menyadari mengenai koleksinya, “Ya pak baju saya sih banyak, tapi kok jelek-jelek ya?” dengan nada tanya. Dalam hati saya jawab, “ya tentu saja bajumu jelek-jelek karena kebanyakan bajumu warisan turun-temurun dari kakak-kakakmu”. Semua angka itu bisa jelek atau baik, tergantung……….janji, kinerja, dan janji yang terbukti. Saya tidak bombastis, tidak mengarang maupun mengada-ada. Di perkotaan saja hal-hal semacam itu masih dianggap tabu, sesuatu yang harus dirahasiakan, disembunyikan seolah-olah sex itu tidak ada di dunia ini. Tetapi di desa hal itu sedemikian terbuka, bukan rahasia, jadi tontonan, dan anak-anak menonton!!! Keluarga saya hidup 18 tahun di kota besar Surabaya. Ketika harus kembali ke desa, banyak yang terasa hilang. Si isteri sering mengeluh karena untuk membeli suatu keperluan harus pergi ke kota yang jaraknya 30-an km. Bagi saya yang memang masa kecilnya di desa sih tidak terlampau susah untuk adaptasi, tetapi untuk isteri dan anak-anak yang sejak kecil tumbuh di Kota besar mungkin persoalan. Sebagai kepala keluarga saya senantiasa menghibur keluarga dengan menceritakan kelebihan-kelebihan hidup sebagai orang desa. Contohnya sayuran tidak perlu beli, tinggal petik di belakang rumah. Butuh ketela pohon tinggal ambil dari kebun. Mau hawa segar tidak perlu AC, jalan kebelakang rumah, ada pohon rambutan besar yang belakangnya sudah saya buatkan kursi dari bambu. Cerita-cerita gombal ini saya ceritakan untuk menghibur agar keluarga saya merasa bahagia. Ah.. anakku punya kesenangan baru. Dia punya beberapa binatang peliharaan, mulai kelinci, angsa, itik, bebek, dan ayam. Setiap dia bangun pagi. aktivitas pertama dia adalah shalat, setelah itu adalah memberi makan peliharaannya. Dan suatu hari dia menghitung jumlah merpati sudah mencapai 50-an ekor. yang awalnya hanya 2 pasang. Menurut cerita mbah, ada tetangga yang komplain, karena merpati-merpati anak saya suka makan padi yang tengah dijemur, atau dari nasi sisa (aking) yang tengah di jemur. Mengingat jumlahnya yang sangat banyak, saya berembug dengan anak saya untuk dijual. Hari ini anak saya lebih fokus dengan memelihara itik dan bebek. Ada cerita yang lucu, suatu hari anak saya membuat laporan bahwa ada seekor bebek yang sayapnya patah. Saya balik tanya, "kenapa bisa begitu?", katanya, "itu Pak bebeknya diperkosa sama si bajag (itik jantan yang ukurannya sangat besar.)". "Hah diperkosa," dalam hati saya. Saya tidak tahu dari mana dia dapat kosakata itu karena dia masih kelas 3 SD. Lebih lanjut dia bercerita tentang teori perkawinan bebek, Itik jantan tidak akan pernah bisa mengawini bebek betina, tetapi bebek jantan dengan mudah mengawini itik betina. Kalau Itik jantan mengawini bebek betina, bebeknya bisa cedera. "dari mana kamu tahu?" tanya saya. "ya aku sering lihat Pak, kalau pagi-pagi biasanya suka kawin". Suatu hari saya ikut menemani memberi makan itik-itik. Dengan bangga dia tunjukan itik peliharaannya, "pak Itik ini hasil perkawinan antara bebek jantan dan itik betina, orang sini menyebutnya Brati, ukurannya lebih besar dari bebek dan lebih kecil dari itik, tetapi memiliki kemampuan terbang yang lebih baik." Wah ... saya tidak mengira hanya dalam waktu satu tahun lebih sedikit dia tahu banyak "pornografi kebinatangan". Suatu saat saya mengkritik jumlah pejantan yang menurut saya jumlahnya terlalu sedikit. Karena ada 15 induk betina dan hanya ada satu Pejantan. Tetapi dia punya argumentasi, "wah tenang pak pejantan ini tangguh, kuat kawin dengan 25 babon (betina). Lanangan iki brancah tenan"!!! (Brancah = Libido tinggi) Lho masih nggak percaya? Madan ramai neng media apa sing jere dijenengi neo-lib (liberal baru) sewijining paham sing jere meniadakan keterlibatan negara dalam pengelolaan perekonomian, Sing jenenge ekonomi ya kon mlaku dhewek menurut mekanisme pasar (hukum supply and demand).Neng Indonesia ana salah siji pihak sing diarani neo-lib, tetapi dengan keras membatah tuduhan kuwe. Dadi nyong takon-takon kanca apa jane sing demaksud dengan neo-lib.Ide awale sing jere apik banget, bahwa dalam suasana yang liberal potensi kreatif akan muncul dengan sendiri. Orang-orang yang kreatif diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri, diberi kesempatan untuk menjadi pemenang.Ana sing ngomong neo-lib adalah ide dari barat yang ingin turut mengatur perekonomian di negara-negara ketiga. Wong bule sadar betul angger kabeh negara wis mbukak pasare se amba-ambane mesti dheweke arep dadi pemenang. Wong genah banget, dheweke duwe modal lewih akeh, kemajuan teknologi dan informasi.Neng negara neo-lib kuwe --jere-- mengko-mengkone kabeh sumber-sumber daya alam kuwe dadi dhuweke swasta kabeh. Lan biasane swasta kuwe lewih berorientasi kepada profit an sich, dadi bisa-bisa alam tambah rusak berat.Sedulur miturut pendapate inyong sing jenenge potensi masyarakat ya jelas harus digali, tetapi tetep bae, negara sing ngatur.Berdayakan dulu masyarakat dengan pendidikan seluas-luasanya, bilamana perlu kuliah 100% gratis nganti sekuate bocah. Angger kabeh wong pinter, arep nganggo neo-lib apa kerakyatan ya ora masalah. Bangun birokrasi yang jujur dan adil.Lah angger kabeh wong wis pinter, sing jenenge ekonomi decul karo pasar ya ora masalah, pertandingan cukup adil karena semua pemain punya kompetensi yang merata.Tetapi angger siki degawe neo-lib ya urung mangsane ... Sandwich jere wong bule enak, tapi ilate nyong urung cocok Bekerja pada seorang perfectionist seringkali berimbas positive pada pengembangan diri kita. Diri kita selalu terpacu untuk selalu mengembangkan diri. Orang perfeksionis seringkali lebih mudah melihat jeleknya (kaya malaikat ATID saja ya?) daripada melihat kebaikan kita. Dalam beberapa hal orang perfeksionis biasanya memang memiliki banyak keistimewaan, bahkan mungkin multi talenta. Berpakaian rapi, bau wangi, pokoknya fashionable. Dan payahnya orang kayak gini biasanya rendah kemampuan empatinya. Dirinyalah yang jadi kiblat dalam segala persoalan. Suatu hari, saya mempresentasikan hasil kerja team saya selama setahun. Alhamdulillah tercapai sebagai best team nasional, di akhir presentasi saya sangat berharap akan hujan pujian, karena market share tumbuh hampir 300% prosen di area tandus, dengan angka fantastis milyaran. Ternyata pesan terakhir dia bukannya pujian, “ok, good jobs, tetapi jangan bangga dulu. Karena kalau bekerja dengan saya hukumnya adalah apalagi yang bisa diperbaiki di tahun ini, tolong buat check list kamu akan perbaiki di area mana, besok taruh di meja saya!!!”. Ya begini. Di lain tahun saya kebetulan agak jeblok pencapaiannya. Dan anehnya di tahun berikutnya dia tetapkan suatu target yang sangat fantastis, sehingga saya protes keras di depan team saya. Dia bilang, “you punya dua pilihan, BISA atau MINGGIR!” Jauh sebelum itu saya pernah dipercaya untuk menghandle suatu customer besar. Kustomer besar karena seorang decision maker dalam suatu lembaga. Susah ditemui karena sibuknya. Beberapa kawan pendahulu saya belum pernah ada yang berhasil ketemu. Jangankan membuat suatu dealing, karena membuat appointment saja tidak bisa. Dengan segala daya akhirnya saya mendapatkan nomer handphonenya, dan berhasil memperoleh appointment. Dia mau ketemu di rumahnya, JAM 1 MALAM. Akhirnya saya ketemu, terjadi suatu dealing bisnis . Paginya saya sangat bergembira, untuk bergegas menunjukan hasil kerja saya semalaman. Untuk menambah heroiknya cerita, saya katakan pada boss, “Boss pada saat orang masih tidur, saya masih bekerja dan bapak bisa lihat hasilnya” Boss nanya, “ dari sana kamu pulang jam berapa?” Saya jawab, “jam 2 malam Boss.” Kata dia, “ akh pulang jam segitu aja kok bangga, JAM SEGITU KAN BANCI BARU MULAI BERANGKAT KERJA!” Berikutnya aku memilih gak ngomong kalau ada apa-apa. Suasana itu kini tinggal kenangan. Dan banyak pelajaran yang saya dapat. Perjalanan hari kemarin tanggal 25 Mei 2009, dengan KA Logawa, dari Surabaya ke Purwokerto menyisakan cerita pilu sekaligus lucu. Kebetulan saya duduk bersama seorang Bapak yang baru saja menengok cucunya di kota Solo.
Sekitar jam 7 malam kereta sudah lepas dari stasiun Wates, perut sang Bapak rupanya minta jatah harian. Pada seorang penjual makanan asongan di kereta, sang Bapak tersebut membeli beberapa mendoan dan arem-arem (lontong yang tengah ada isinya). Membayar dengan uang 50 ribuan. Si penjual memberikan beberapa lembar uang pengembalian. Kelihatannya, enak sekali menikmati perjalanan kereta ekonomi dengan menu makanan arem-arem dan mendoan. Di tangan kanan memegang arem-arem dan uang pengembalian yang jumlahnya kurang lebih 45 ribu itu tetap terselip di jari tangan kiri. Setelah habis satu arem-arem dibuanglah bungkus daun pisang itu lewat jendela kereta. Dilanjutkan melahap arem-arem yang kedua. Setelah habis arem-arem yang kedua dia pun bermaksud membuang sampah bungkus arem-arem lewat jendela. Dengan setengah berdiri dia melemparkan sesuatu melewati jendela kereta. Saat itu kereta melaju kencang, tiba-tiba dia berteriak spontan, “duitku-duitku!!!”
Saya pun bertanya ada apa. Rupanya waktu melemparkan sampah si Bapak lupa, karena yang dilempar ke luar adalah "duit 45 ribu" yang ada di tangan kiri. Bapak tua itu menjelaskan kepada teman-teman seperjalanan sambil memegangi sampah bungkus arem-arem yang menjadi bukti kelalaian.
Untung Bapak Tua ini Cuma penumpang kereta ekonomi, coba kalau dia menteri keuangan tentu yang dilempar pasti Uang BLBI yang jumlahnya triliunan, atau dia menteri BUMN berarti perusahaan Negara yang profitnya milliaran.. Apa yang saya ungkapkan ini tidak perlu diterjemahkan lagi. Karena pilihan judul itu dalam pengertian lugas. Karena ternyata dalam tradisi masyarakat Wamena babi memiliki nilai ekonomi maupun nilai psikologi yang tinggi. Harga per ekor bisa mencapai 4 – 5 juta per ekor.
Yang istimewa ada kebiasaan babi itu disusui, tentunya tidak dengan dot. Karena di pedalaman sana belum ada dot. Terus disusui dengan apa? Kalau seorang ibu sedang punya asi, tetek bisa untuk 3 pihak, anaknya, bapaknya dan juga untuk babi . Payudara yang satu untuk manusia yang satunya untuk babi. Wanita yang suka menyusui babi akan terlihat dari bentuk putingnya yang khas.
Karena itu berhati-hatilah kalau mengemudikan kendaraan di sana. Jangan sampai menabrak babi. Kalau menabrak babi sampai mati, sopir bisa langsung miskin. Dan lebih celaka lagi kalau yang ditabrak babi betina. Kalau babi betina harus dibayar sebesar Rp. 8 jt. Ini masih harus diperhitungkan dengan jumlah “putting” yang dimiliki oleh si Babi. Di Wamena seekor babi umumnya punya puting 10-20. 1 puting dihargai 1 jt. Kalau babi itu betina, berputing banyak, dan hamil, maka ganti rugi dihitung dengan menjumlah harga babi ditambah jumlah puting ditambah lagi dihitung jumlah janin yang ada dalam rahim babi. Tentu dengan terlebih dahulu membelah perutnya untuk menghitung janin. Konon hukum adat harga mati. Polisi tidak akan mampu menolong. Polisi paling Cuma bisa bilang “jangan menabrak babi di wamena”.
Disarikan dari Radar Banyumas, 11 pebruari 2009, hal. 7. wengi-wengi radio purwokerto nyetel gending... ana parikan sing unine ----------randane nunut, ora nginang, ora ngemut, lambene digrumut semut..........---. Nyong agi ora kepengin komentar karo isine lagu secara keseluruhan, tetapi maksudku pengin memberikan komentar sehubungan pandangan wong terhadap salah sijining mahluk sing jenenge randa. Pada kebanyakan parikan, wayangan utawa kethoprakan sing jenenge randa kiye sering banget dadi bahan sing menarik nanging sering-seringe melihatnya dari sudut pandang sing madan miring. Dadi sering ana sebutan (varian) janda ana sing ngarani randa teles, randa kembang, nganti randa garing. Sudut pandanga selalu dari sudut seksual. Angger randa garing maksude ya randa sing wis manopouse. Jan melasi banget lah angger carane kaya kuwe. Nyong dhewek ngalami urip suwe karo randa --- lan apa sing digambarna karo wong sama sekali tidak terjadi pada randa kiye --- randa kiye ya biyunge nyong dhewek. Biyunge nyong dadi randa tahun 1989 sawise bapake nyong ninggal. Sing ngrumat anake, nggoletna dhuwit nggo kuliah ya biyunge nyong dhewek. Pirang-pirang wong lanang angger detinggal mati karo bojone biasane, akhire duwe 2 pilihan, siji, nyusul mati bojone mbuh sebab stress utawa sebab liyane, loro utawa mbojo maning. Sing akeh opsi nomer 2 sing dipilih. Jere malah bojone nembe mriyang be wis memikirkan alternatif pengganti. Mungkin karena wong lanang biasa dilayani si, kaos kaki digoletna, tas ditatakna. Angger ibune sing mati melas banget karo anak-anake, kadang-kadang kurang derumat. Angger sing kedadiyan karo biyunge nyong, jan bisa adaptasi 100% ngganteni rama. Sing maune ora tahu maring sawah, dadi sregep maring sawah. Sing maune nang purbalingga kudu dejujugna ramane, maring Jakarta be dadi wani dhewekan. Jere demi tanggung jawab karo anak-anake. Ana kedadian neng pasar Bandingan, biyunge agi mlaku mpasar detakoni karo guru jenenge Pak Bsrd, kanca sekolah ya kanca guru, tapi takone jan ora sopan banget, "kuwe randane arep maring ngendi?". Biyunge nyong wong sing alus ndelalah bisa teyeng semaur, "ojo ngomong kaya, apa njaluk dedongakna bojone rika dadi randa?" Lah jawaban spontan kuwe dadi perhatian wong, wong sepasar dadi ngerti kabeh. Wong sing jenenge Pak BSRD langsung njaluk ngapura. Tapi biyunge gela, dadi ya ora nggople. Akhire wong kuwe teka neng ngumah. Pas gutul ngumah, aku lan adhiku agi neng umah. Biyungku madan pinter, dong kuwe wong teka singa kon ngadepi anake loro sing wektu semono aku lan adhiku esih SMA. Wong kuwe tek omehi entong-entongan. Dadi wong tuwa diomohi bocah cilik. Wong kuwe siki sopan banget angger ketemu nyong utawa karo biyungku. Biyunge tekan siki esih seneng urip menjanda (life in widowhood), jere sih lewih ayem. Wara-wiri delamar wong tapi ora tahu gelem. Alasane ora bisa kelalen karo ramane, karo mbok ngganggu hubungan karo anak-anake. Padahal anak-anake ya ikhlas angger arep keluargaan maning. Biyungku wektu kuwe umure esih 37 tahun. Aku siki nduwe anak wadon, dadi angger ana wong wadon - mbuh randa mbuh prawan ora kepengin membuat statement sing nglarani --- soale ngemuti biyung lan anak wadhonku. Tapi sing penting degarisbawahi --- wong wadon kuwe perlu lebih mandiri -- baik dalam ilmu pengetahuan maupun kemampuan ekonomi---- agar ketika mengalami ketidakadilan berani ambil sikap. Salah satu sebab biyungku wani urip menjanda salah satunya ya karena mandiri secara ekonomi. Dadi ora perlu tergantung maring wong lanang. Sing tek pikiri nang atiku ya kepriwe carana anakku wadaon dadi wong sing "berdaya" ben gedene punya prinsip, berani ambil sikap menghadapi ketidakdilan--- berani melawan saat mengalami pelecehan (whatever harassment). Akeh wong lanang lan wadon di luar sana yang baik dan yang tidak baik, tetapi suatu ketidakadilan jika melihat baik buruknya dari statusnya sebagai duda atau janda. Banyak orang-orang yang menikah tetapi menjalin perselingkuhan juga. Hapus prejudice macam itu. Banyak janda-janda di Indonesia yang mampu berprestasi dan layak diberikan apresiasi. Mulai Mulan Jameelah, Maia estianti, Dewi Persik, Ussy susilawaty dll. Title tulisan ini bukan bermaksud melecehkan hanya sekadar mengutip lagunya Irwansyah. 
|  | saya ingat waktu mereka masih orok, rengekan tangis bayinya gemanya masih terdengar, ternyata mereka bukan bayi lagi bahkan sudah remaja... berarti bapaknya sudah tua |
Konon sesuatu itu menjadi menarik karena dua hal. Pertama, sesuatu itu menimbulkan rasa senang, gembira atau bahagia atau sederet kepuasan batiniah. Kedua, karena sesuatu itu memberikan manfaat lahiriah, mendatangkan manfaat secara material. Apakah selalu begitu?Hampir tiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk menjadikan berita koran sebagai sarapan kedua. Kata kawan saya, di era informasi ini perbedaan antara si Pinter dan si Tidak pinter bukan pada seberapa lama dia bersekolah, tetapi pada seberapa up to date informasi yang dimiliki. Istilah mutakhir tidak lagi cukup dengan parameter volume, tetapi juga speed, kecepatan mendapatkan informasi. Menghindari, minimal cemoohan dari kawan saya, saya sempat-sempatkan baca koran, atau kalau sempat buka internet -- terutama detiknews.com, Indonesiamemilih.com, okezone.com, dan yang terakhir saya tahu adalah vivanews.com. Situs-situs ini banyak menyajikan berita-berita baru Politik ke-Indonesiaan.Menjelang perhelatan akbar, Plebisit Raya yang akan diselenggarkan 9 April, menarik beberapa pakar untuk memberikan ulasan. Banyak situs-situs pribadi yang sering saya ikut pula komentar-komentarnya. Dan Benang merah dari banyak perbincangan adalah adanya ketakutan akan naiknya tingkat Golput, golongan yang memilih untuk tidak memilih. Di beberapa Pilkada, kecenderunan tingkat partisipasi cenderung menurun, atau golput cenderung naik. Saya punya beberapa pendapat dari kacamata wong ndeso, dengan hipotesa yang saya tulis di alinea pertama.Satu, Demokrasi telah mengalami pendewasaan, Pada jaman dulu, nggak ada yang berani untuk tidak datang ke TPS. Jaman dulu golongan yang nggak mau nyoblos ini bisa dengan mudah distigma dengan anti NKRI, anti Republik dan jargon yang lain. Pada saat ini keputusan untuk datang atau tidak datang betul-betul datang dari kemauan pribadi per pribadi warga negara, bukan karena suatu tekanan atau intimidasi. Menurut saya prosentase partisipasi rendah yang terjadi akhir-akhir ini akan tetapi sebenarnya diikuti naiknya kualitas partisipasi.Kedua, Jika kualitas pemilu diparameterkan dengan tingginya partisipasi, maka tugas kedua adalah menginventarisir sebab dari rendahnya partisipasi. Sesuatu mendatangkan sensasi itu kalau jarang dilakukan. Kalau sering mendatangkan rasa bosan. Coba tanya para pria-pria beristeri atau wanita-wanita yang bersuami. Demikian pula pemilu, Pileg, Pilpres, Pilkada datang bergantian. Kata orang sih pemilu tidak lagi menimbulkan efek kejut. Jadi mungkin perlu dipikirkan oleh para legislator untuk memikirkan kemungkinan disatukannya berbagai pil, mulai pilkades hingga pilpres. Agar pesta ini memiliki efek ectacy karena tidak terlalu sering terjadi.Dalam sebuah sosialisasi yang pernah saya ikuti di sebuah kecamatan, ada sebuah pertanyaan dari salah seorang warga desa. "Apa yang saya dapat dari Pemilu?"Orang kampus yang well-educated tentu menganggap naif pertanyaan ini. Pemilu adalah kesempatan terbaik yang dimiliki oleh warga untuk turut menentukan jalannya pemerintahan. Kira-kira begitulah yang tertulis di buku catatan mahasiswa Fisipol. Akan tetapi apakah semua orang Indonesia mampu melihat --- hubungan konsekuensi logis --- antara pilihan dalam pemilu dengan kehidupan mereka sehari-hari di masa mendatang. Karena yang mereka tahu wakil rakyat di dewan korupsi berjamaah, wakil rakyat hidupnya semakin mewah, beberapa orang-orang dipilih dalam sebuah pesta politik, sambang konstituen "hanya" menjelang pemilihan karena dirinya nyaleg lagi, banyak video mempertontonkan bagaimana perilaku buruk para legislator. Ini suatu kenyataan yang membuat rakyat salah sangka, seolah itu terjadi pada semua legislatorPerilaku wakil rakyat membuat rakyat menurunkan expectasi atas suatu pilihan. Di satu sisi rakyat iri, --- karena rakyat sebagai king maker--- seperti ditinggalkan, di satu sisi rakyat masih punya bargaining. Rakyat akhirnya membarter "suara rakyat" dengan lembaran puluhan ribu. Kadang ini terasa seperti perampokan, jadi pemilu seperti transaksi. Rakyat di Indonesia seolah menuliskan di didadanya, "Vote for sale!!". Kenyataannya siapapun yang maju sebagai caleg (tanpa mempedulikan seperti apapun kapasitasnya) harus siap berhadapan dengan sebagian besar petualang ekonomi di ranah politik, Vote for money.Kata kawan, dulu ada gerakan anti politisi busuk, konon kini muncul pula pemilih busuk. Terjadi suatu political decay (pembusukan politik).Bahwa harga listrik hari ini, biaya pendidikan hari ini, naiknya harga minyak, atau turunnya harga minyak, naiknya biaya fiskal saat ke luar negeri, maraknya video porno, naik turunnya kejahatan, mahal atau murahnya harga sembako, kelangkaan pupuk ------ semua itu adalah berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pilihan pada saat pemilu. Saya yakin jika rakyat tahu konsekuensi logis dari pilihan ini mereka akan beranjak ke TPS untuk memberikan pilihannya pada orang-orang terbaik, bukan pada orang-orang berwajah tebal, berhati hitam yang hanya bisa membabat hutan dan menjual isi bumi pertiwi demi perut sendiri. Pilihan hari ini adalah penentuan nasib untuk kita, anak, cucu, cicit di masa depan. (siapa yang harus menjelaskan?)Datanglah ke TPS tentukan pilihan, masa depan ditentukan. Kalau orang bertanya Purbalinga dikenal apanya? Trade merk apa yang membuat kota ini berciri? Masih agak susah menyebutnya. Kita akui atau tidak, Sumanto berjasa besar memperkenalkan nama kota ini. Terlepas dari tindakannya yang di luar batas. Tetapi diferensiasi --- apapun itu--- tingkah laku, keunikan produk--- adalah hal yang penting dalam sebuah identifikasi. Diferensiasi pada sumanto, membuat orang tidak lagi bertanya 'apakah purbalingga tercantum di dalam peta". Dan itu cerita yang sulit dihapuskan. Gampang sekali membuat orang tergugah ketika saya menyatakan, saya berasal dari kota kelahiran sumanto. Differensiasi. Pada situasi kompetisi yang sangat kreatif, telah melahirkan ide-ide baru dalam berbagai kekaryaan. Musik, makanan dsb. Bahkan bagi pemusik--- saat kondisi yang sangat sulit bagi band-band baru untuk membuat karakter khas. Musik dari semua genre telah diborong oleh para pendahulunya. Kalau kita lihat saat ini, hampir semua band berwarna sama. Di dalam industri makanan pun demikian, Ayam goreng pun dibuat dalam berbagai ragam identifikasi, banyak sekali pemain-pemain baru di dunia ayam goreng yang berguguran. Purbalingga dalam pengamatan saya termasuk kota baru "rising star" yang membuat kota-kota jirannya jadi belel (kuno). Selalu ada hal yang baru, ide baru. 20 Tahun lalu rasanya Purbalinga seperti kota yang putus asa, dari sisi mana kota ini bisa dikembangkan. Saya pikir adanya "Owabong" termasuk salah satu katalisator berkembangnya sektor-sektor yang lain. Menyusul taman reptil, museum uang. Jadi saya kira Purbalingga mulai menemukan arahnya. Prinsip prioritas menurut saya hal yang penting. Pengembangan industri besar, membutuhkan pelabuhan laut yang besar. Ingat Bahwa semua kota besar di Indonesia selalu ada di tepi laut. Jakarta, Surabaya, Medan. Apakah hal itu membuat kita tidak boleh berharap Purbalingga tumbuh dari sektor Industri? Saya kira memang begitu, Kita cukup berharap tumbuh dari Industri menengah ataupun industri yang berbasis pertanian / industri kreatif (kesenian). Hal-hal besar di Purbalingga berbasis pada Pariwisata, menurut saya inilah arah yang sudah mulai kita temukan. Jika industri pariwisata ini dikelola konsisten, tidak mustahil Purbalingga akan jadi kota besar di kawasan Banyumas. Banyangkan jika di kota lain telah melihat Purbalingga sebagai kota wisata banyak lagi yang bisa dikembangkan, ---- bisnis tanaman, garment, penginapan, industri makanan. Dan ketika orang berkerumun di Purbalingga. Tidak akan susah untuk membuat lembaga pendidikan yang bagus. Karena tenarnya Purbalingga orang tidak akan malu sekolah di Purbalingga. Kos-kosan ramai, kaki lima ramai, tukang cukur ramai, tukang foto copy ramai. Orang Purbalingga bisa sejahtera tanpa harus orang Jakarta bilang "siapa suruh datang Jakarta"?. Hm Sroto di Purbalingga ada di tiap Desa, bahkan mungkin di tiap RT, tapi hingga saya menulis blog ini saya belum menemukan kesimpulan Purbalingga sebagai kota apa ya? Apa mau disebut kota idep, kota knalpot, kota Sang Jendral, Kota Air. Banyak banget ya yang bisa dijadikan ciri. Rasanya harus dipilih salah satu, agar ada "branding" yang jelas tentang kota ini. Kediri kota tahu, Surabaya Rujak Cingur, Palembang kota empek-empek, Bangil kota Bordir. Dan paling umum adalah makanan yang dijadikan merk "suatu kota". Bagaimana kalau Purbalingga jadi Kota Sroto? Mumpung Purwokerto belum mencanangkan Purwokerto Kota Sroto, Ayo rebutan dengan Purwokerto!!! Sejak kepindahan keluarga saya di Purbalingga, banyak hal baru yang perlu dipelajari bagi keluarga saya. Buat saya pribadi, saya cukup mengingat kebiasaan-kebiasaan di masa lalu kemudian mempraktekkannya kembali. Kebiasaan itu terutama, mereset kembali jam biologi saya dan seluruh keluarga. Betapa tidak, pada saat masih tinggal di Kota, tidur jam 11 malam menjadi hal yang lumrah. Di sini di atas jam 9, sudah tidak ada lalu lalang kehidupan. Sebagian besar tetangga saya adalah petani, harus harus men-charge kembali energinya, karena esoknya harus membelanjakan kembali tenaganya. Praktis setelah Shalat Isya sebagian besar sudah berangkat tidur. Saya bergabung dengan orang tua kembali, buat saya tidak ada persoalan. Yang perlu energi besar untuk adaptasi adalah isteri dan anak-anak saya. Jenis makanan yang mereka makan sehari-hari sebelumnya berbeda sekali dengan bahan makanan yang tersedia di pedesaan. Sewaktu tinggal di Gresik, ikan bandeng dan ikan mujair seperti santapan wajib yang harus ada (dan murah). Sementara di desa yang saya tinggali, orang lebih banyak makan sayur daripada protein hewani. Kalaupun ada protein hewani, harganya terhitung mahal. Saya jadi pengin cerita bagaimana mujair di kota Gresik harga mujair bisa sangat murah. Pada pagi hari harga mujair Rp. 5000 – 7000 per kg. Pada siang hari, (bubaran pasar) bias diobral Rp. 2000 – 3000 per kg. Ternyata di sana ikan mujair termasuk golongan hama, jadi keberadaan mujair di suatu tambak bukan ikan yang dikehendaki. Kalau di Purbalingga, kalau orang tanam padi selalu ada genjer (centhongan) meski tidak pernah ditanamnya. Di sebuah tambak, (baik bandeng maupun udang), keberadaan mujair sangat mengganggu, karena menjadi pesaing bandeng/ udang dalam berebut makanan. Jadi Petani sangat tidak senang dengan keberadaan ikan Mujair. Benih mujair tidak pernah sengaja ditaburkan tetapi selalu ada di dalam tambak. Secara sosial isteri tercinta saya pun harus beradaptasi dengan mertuanya. Ibu saya wanita desa, tipikal wanita apa adanya. Tidak basa-basi dalam hidup, tidak ada istilah JAIM, hidup adalah substansinya, tidak ada kosmetiknya. Seperti harus mempertemukan wanita dari dua jaman, kadang menempatkan saya dalam kebingungan antara isteri dan ibu saya sendiri. Selera makan mereka sangat berbeda, isteri saya suka pedas, ikan-ikanan, santan kental, dan suka penyedap rasa (MSG). Sementara ibu saya kebalikannya, sangat tidak suka dengan pedas, dan hebatnya mampu mendeteksi keberadaan MSG meski jumlahnya sangat sedikit, Saya sering melihat ada ketidakharmonisan dalam hubungan. Tetapi ada satu hal yang mempertemukan mereka, ibu saya sangat suka pudding dan bubur sumsum buatan isteri saya, yang konon resep versi Surabaya, yang berbeda rasa dengan agar-agar Purbalingga. Dan isteri saya sangat suka gulai kentang ibu saya. Suatu hari isteri saya masak besar, bertepatan dengan HUT anak saya yang ke-15. Hari itu isteri saya meminta seluruh keluarga makan bersama-sama. Pada saat akan makan, diucapkan doa bersama-sama dan isteri katakana bahwa makan malam hari itu adalah untuk merayakan Ultah anak saya yang ke-15. Di akhir acara makan, ibu saya berkomentar, bahwa Syukuran boleh, tetapi kalau dikhususkan untuk acara Ultah bisa menjadi haram dengan sejumlah alasan Teologis. Hmmm hari itu makan nikmat itu agak berakhir dengan kecut. Kalaupun ada hari Ultah anak saya, isteri mengucapkan selamat Ultah kepada anaknya dengan berbisik-bisik, “selamat ulang tahun nak, jangan bilang-bilang Mbah, kalau kamu saya beri hadiah Ultah”. Saya membantu memberikan sejumlah pengertian kepada anak maupun isteri. Beberapa hari lalu, pas hari jadi saya, saya kebetulan sedang berada di dalam kota Semarang. Saya menerima sms dari isteri dan anak-anak, yang mengucapkan selamat Ultah. Saya harus menganggap itu biasa-biasa saja, dan saya cuma bilang thanks. Di rumah tidak ada acara khusus seperti orang desa kebanyakan. Satu hari kemudian saya harus pulang ke rumah, karena seluruh acara di semarang sudah selesai. Dulu saya sangat suka dengan jengkol, baik mentah maupun dibuat menjadi semur jengkol. Belakangan saya berhenti melanjutkan kesenangan akan makanan ini. Karena seluruh anak-anak saya, isteri saya tidak suka dengan jengkol. Karena itu saya pun tahu diri, saya jadi minoritas penggemar Jengkol. Praktislah puluhan tahun saya tidak merasakan asam legitnya jengkol. Ibu saya tahu, saya suka jengkol sehingga ibu saya pernah membelikan agar dimasak oleh isteri saya. Tetapi isteri saya tidak segera memasaknya dengan alasan tidak ada yang suka. Ibu saya pun mahfum kalau dimasakpun akan jadi mubadzir. Saya juga heran kenapa pada hari itu ibu saya menyambut kepulangan saya dengan berseri-seri. Pada saat saya makan, ibu saya datang dengan membawa rantang yang tertutup dan meletakan di meja tempat saya makan. Isteri saya pun kaget, karena tidak tahu kapan ibu memasaknya. Rupanya ibu memasak Jengkol itu dimasak di rumah salah satu anaknya yang lain. Dan surprise, masakan yang diberikan itu adalah “SEMANGKUK GULAI JENGKOL” dan ibu bicara selamat Ulang tahun. Dan itu pertama kali dilakukan dalam hidupnya. Dia bicara cinta, bukan teologi lagi. Pesannya sayangi anak isterimu. Jaga diri, bekerjalah dengan melihat pekerjaan dari sudut amanah bukan dari sudut jabatan.
CINTA DALAM SEMANGKUK GULAI JENGKOL  | Change | Dec 15, '08 8:58 AM for everyone |
Kata ini konon jadi kata yang paling banyak diucapkan seluruh antero AS terutama menjelang pemilihan Presiden Amerika. Sehubungan waktu luang yang begitu banyak di kampung, saya coba baca buku-buku lama, dan tulisan-tulisan tangan saya sewaktu mahasiswa. Kata-kata yang saya tulis, saya merasa tidak mengenal tulisan saya sendiri, dalam hati saya berkata "masak saya pernah memiliki pikiran kata-kata ini, apakah saat itu saya seperti itu." Halaman pertama yang saya buka, "Pengantar Ilmu Politik", sampulnya sudah tidak ada, ada tulisan merah --- Dunia menyediakan dua pilihan, kill or to be killed, terkooptasi atau menguasai, jika kita tidak cerdas kita berada di jalan menuju pembantaian korban kerakusan politik yang tidak pernah kita sadari----- saya cermati satu demi satu kata, apakah ini ucapan saya di masa lalu, ucapan ketakutan, dan seolah tidak percaya bahwa di luar sana ada orang berhati baik.Di buku lain, saya menuliskan sebuah kata ---- kenapa orang muda selalu tidak berdaya? Saat Bung Karno tidak berani memerdekakan diri, para pemuda memaksa bung Karno menyatakan kemerdekaan, Saat itu pemuda menculik dan membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengas Dengklok. Para pemuda berkata, "Bung ini saat merdeka, saat Indonesia Vacum Of Power, saat Jepang tidak punya kekuatan politik, tidak bisa ditawar Saat Ini (17/8/1945) Indonesia harus merdeka. Kemerdekaan 45 adalah kreasi para Pemuda. Tetapi setelah Merdeka, Sukarno telah jauh meninggalkan ide para pemuda. Ketika sukarno turun dari tahta, Pemuda memberikan kesempatan kepada Suharto, bahkan suharto telah jadi senjata makan Tuan yang menyediakan penjara dan peluru untuk menghentikan denyut nadi gairah muda.Kenapa orang muda selalu berhasil merebut tetapi kemudian menyerahkan kepada pihak yang tidak bisa dipercaya, berulang-ulang begitu dan begitu.Kemudian aku membuka-buka buku yang relatif baru, coretannyapun lebih baru, Tulisan dan kata-katanyapun lebih kekinian dan versi "Hare gene". Aku buka satu buku, Rich Dad Poor Dad, karya Robert Kiyosaki, di dalamnya terselip selembar kertas HVS yang dilipat 4. Lembaran itu berisi catatan gaji yang diterima, kemudian rencana belanja bulan itu mulai cicilan rumah, biaya sekolah anak, biaya listrik, biaya air, dan lain-lain. Di batas bawah kertas tertulis,---- bulan ini kita gak bisa nabung!!! digaris bawah tebal.Di buku yang lain aku masih menemukan tulisan, "jika kita punya sepotong roti, jangan makan semua, bagi dengan yang lain, yang lain pasti menginginkannya. Berbuat baik selagi kau bisa, mungkin dengan itu hidupmu menjadi berarti.""Jika hari ini ada yang menyakitimu nikmati itu sebagai pelajaran, jangan lakukan hal yang sama sebagai pembalasan, keluhuran hatimu adalah pada saat memutuskan untuk tidak bertindak atas dasar dendam dan kebencian" peace!"Tuhan pasti menyediakan jalan tengah, jika manusia mau memilihnya dunia ini menjadi surga yang damai"Hari ini Yasmin anakku menegur saya, "Pak beli semir rambut dong, beberapa helai rambut mulai memutih,""Biar saja memang sudah waktunya, rambut-rambutku harus memutih!"inikah makna dari "CHANGE?" Kalau bicara system selalu ada 3 mekanisme yang dilalui, In put – Proses – Output. Lalu apa hubungan antara tulisan saya dengan judul di atas. Setelah saya amati dan dalami, penekanan yang berbeda pada masing-masing tahapan akan menentukan “ideology” hidup masing-masing orang. Tukang Mancing. Siapapun yang pernah kenal tukang mancing akan terkagum-kagum dengan kesabarannya. Bagimana menunggu menjadi suatu seni menikmati hidup. Ulah para pemancing sering menimbulkan kegelian, bagaimana tidak, selokan kecil yang berisi ikan-ikan kecil, yang andaikan mau menggunakan “seser” begitu mudahnya ditangkap, mereka memilih menangkapnya dengan serangkaian prosesi pendahuluan, mencari umpan, menyematkannya ke dalam pancing, barulah melemparkannya ke tengah selokan. Itu masih ditambah waktu yang dibutuhkan untuk menangkap ikan kecil ini. Mereka teruji untuk menjalani kesabaran yang luar biasa. Mereka adalah orang yang dalam kegiatannya sangat menekankan pada proses. Ideologinya menekankan pada fanatisme proses. Fanatisme mereka kerap kali mengabaikan akutansi hidup, tidak peduli berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan itu, dan bahkan tidak peduli pada berapapun hasilnya. Dan seringkali para pemancing enggan untuk memakan hasil tangkapannya. Maling Dari sekian banyak penjahat, inilah varian penjahat paling banyak. Dari yang tukang kutil, copet, maling berlagak pemulung, sampai pencuri uang Negara atau lazimnya disebut koruptor. Tokoh kedua ini, ideologi yang dianut adalah penekanan pada “out put” / result. Karena out putnya result, maka yang namanya proses, atau aturan main, norma dsb menjadi bagian yang tidak penting. Proses dipergunakan pada saat tertentu sebagai kamuflase saja agar gairah akan “output semata-mata” tidak terendus. Tokoh yang kedua ini dalam pergerakannya tidak mempertimbangkan korban sebagai bagian yang penting, penjahat seringkali tidak mengenal belas kasihan. Kerja mereka sangat efektif, idelogi mereka adalah “hasil”, proses buat mereka adalah cara “plin-plan” sesuai konteks operasinya. Menurut pendapat saya, jika kita berada pada dua titik ekstrim, baik sebagai pemancing maupun sebagai maling, tetap saja jauh dari ideal. Sebagai Pemancing tidak memperhatikan hasil sebagai maling terlalu memperhatikan hasil. Yang Ideal, dalam hidup kita harus memimpikan suatu target hasil, tetapi proses yang dijalani / dilakukan harus konstitusional. Siapa yang tidak setuju? Di rumah ada sepasang merpati yang mengerami telurnya. Setelah ditunggu 2 minggu lebih sedikit menetaslah itu telur. Ternyata cuma sebutir telur yang menetas, jadilah dia menerima takdir sebagai seorang jomblo. secara alamiah, dia terlahir berpasangan, artinya sepasang induk merpati selalu bertelur dua butir, yang jika menetas akan menjadi pasangan jantan dan betina. Dan pasti berjodoh. Saya berinisiatif membelikan pasangan di pasar. Saya masukan merpati baru ini dalam kandang. Setelah satu minggu coba saya lepaskan, dan betul dia sudah mengenal rumah, tidak kabur. Praktis saya punya dua pasang merpati, 1 pasang yang lama, dan satu pasang yang baru. Namun setelah saya perhatikan, setelah hampir satu bulan. Pasangan baru yang saya harapkan tidak terjadi, artinya tidak mudah ternyata membuat mereka jadian secara alamiah. Mungkin ini makna dari ungkapan "merpati tak pernah ingkar janji". Katanya tetangga untuk membuat mereka berjodoh perlu ada celebrasi yang membuat mereka merasa jadi couple. Akhrinya saya turuti apa yang orang bilang. Kedua merpati itu saya masukan ke dalam satu sangkar yang sama yang sempit. Sangkar itu saya jemur dalam terik matahari, dan saya mandikan dengan semprot air 3x sehari. Selama 3 hari. Pada malam hari kedua pasangan itu dimasukan ke dalam kardus yang sempit (agar bisa saling mengenal bau masing-masing). Selama tiga saya membuat situasi yang membuat mereka dalam satu situasi yang sama, yang diharapkan menciptakan solidarity, kebersamaan perasaan. Setelah tiga hari saya lepaskan kembali. Seperti lagu Matta, kamu ketahuan... saya lihat satu minggu berikutnya mereka lagi lagi french-kiss di atap rumah. Dan Alhamdulillah hari ini mereka sedang bergantian mengerami telurnya.....(gara2 manusia, merpati jadi ingkar janji).  hmm lama nggak nulis, jari-jari kaku semua. Belum lama saya jadi penghobi kelinci, belum banyak koleksinya, tapi lumayan menghibur. Ketika saya memperhatikan kelinci, apa yang aku pikirkan adalah kenapa kelinci jadi lambang play boy. Watak istimewa apa yang membuat kelinci dianggap mewakili karakter seorang don Juan. Saya cukup terkejut karena ternyata, kelinci (-- terutama kelinci jantan--), saya menilai sama sekali tidak memiliki karakter teladan, atau sifat-sifat baik yang bisa ditiru oleh manusia. Pertama, Kelinci Jantan super Poligami, satu kandang dengan 30-40 betina, ternyata si Jantan masih mampu mengatasi untuk kebutuhan pembuahan. Ini sih agak lumrah, terjadi pada banyak binatang. Kedua, Kelinci jantan Pecemburu berat, Jangan letakan dua kelinci jantan dalam satu kandang, mereka akan bertarung memperebutkan pengaruh. Bahkan untuk menegaskan kekuasaannya kelinci yang lemah akan diserang terus-menerus, kadang menyerang dengan mencabuti bulunya, menggigit telingan hingga robek. Menurut buku yang saya baca, dia akan menyerang musuhnya dengan menyerang spesifik pada testis musuh, sampai testis lawan rusak, hingga tidak bisa melakukan perkawinan. Jadi sebaiknya tidak meletakan 2 pejantan dalam satu kandang. Ketiga, Orientasi adalah egoisme, bukan lawan jenis. Kelinci betina yang sudah dikawini dan hamil akan menolak untuk diajak kawin. Kalau ukuran badannya lebih besar seringkali melawan terhadap si jantan. Nah kelinci jantan tidak peduli apakah si betina lagi hamil atau tidak, pokoknya kejar terus dan diajak kawin. Seringkali untuk mempertahankan kehormatan betina sampai berdarah-darah. Pada kandang dengan jumlah betina yang sedikit perilaku ini lebih ekstrim. Keempat, Pejantan tidak sayang anak, sepanjang yang saya tahu pejantan ini suka menyerang anak-anak. Dalam satu kasus di mana terjadi kelahiran di luar kandang, bahkan si Jantan ini memakan anaknya (kanibalisme), jadi sebaiknya pada saat terjadi kelahiran pisahkan sementara di kandang tersendiri. Tetapi tekstur daging kelinci sangat lembut, sangat pas dibuat sate kelinci. Saya pernah menulis trik pria menolak cinta, biar adil saya pengin tulis kisah tentang trik wanita menolak cinta. Alkisah seorang gadis cantik bernama Putri, rupanya elok dan rupawan. Kecantikan termashur sampai kota-kota yang jauh. Ada seorang pangeran Arab yang mendengar berita keelokan sang putri. Setelah ia bertemu dengan sang putri sang Pangeran Arab kesengsem abis. Berkali-kali ia mengirim utusan untuk menyampaikan lamaran, namun berkali-kali pula ia ditolak. Namun dengan gagah perkasa pangeran merangsak terus. Karena si Putri merasa terdesak sang putripun menyanggupi untuk menjadi pendamping pangeran dengan syarat-syarat yang berat. Pangeran, "apa saja syaratnya Putri". Putri, "Saya punya 3 permintaan yang kalau kamu bisa penuhi aku baru mau menjadi putrimu". "kamu harus belikan aku sebuah kapal pesiar" kata sang putri. Kata pengeran, "baik ana akan belikan itu kafal !, terus apa permintaan yang kedua?". Putri, "yang kedua belikan aku sebuah villa dengan kolam renang, dan dikitari oleh ranch agar aku bisa berkuda!" Pangeran, "aha itu pun ana akan belikan, apa yang ketiga?" Putri berpikir keras, karena ternyata semua permintaan yang menurut asumsi putri tak akan bisa dipenuhipun ternyata dituruti, akhirnya terbersit sesuatu yang aneh. Kata putri, "saya mau MR. P pangeran panjangnya 45 cm!!!!" Sang pangeran bingung alang kepalang, "putri apakah permintaanmu yang ketiga ini tidak bisa dinegosiasikan?", "Tidak bisa ditawar!!!" sergah sang putri. Sang putri merasa menang, dan senang melihat sang pangeran pucat pasi kebingungan. Setelah beberapa lama sang pangeran berkata, "Setelah saya pertimbangankan baik-baik, demi cintaku yang dalam pada sang putri. Baiklah sang putri, ana akan fotong, ana akan fotong" katanya berulang-ulang
 | mari isi buku tamu | |
 | tambah umur pakde. tambah sregep nulis yo... |
 | leres sanget menawi sa meniko niku sami pindah dateng pesbuk dados inggih sepi la ingkang rame meniko pesbukan mekaten ......... |
 | blog ini sangat sepi ya, pada main fesbuk semua ya? |
 | www.gudangbelanja.com Grosir dan Retail Baju Bayi, Anak-Dewasa branded Sisa Eksport & Import, Mudah, Murah Berkualitas. Transaksi Online Otomatis 24 Jam/Hari & 7 hari/Minggu. Keterangannya lengkap, banyak model, bahannya halus dan lembut. Di jamin gak akan nyesel deh....! Mampir ya ... |
 | o kaya kue, siki nang purbalingga bae apa, ora maring jatim manging, inyong kiye sue ora bali maring pasunggingan jane kepengin tapi urung due sangu,,, kang. |
 | salam kenal aja buat rika kang dari inyong, kakang apa rika maune nang gresik apa........ |
 | Ass wr wb, apa kabar ? kemana aja mas, sibuk kampanye yakh ? salam persahabatan selalu. |
 |
ekohm wrote on Feb 14, '09 |
 | salam kenal juga, siapa tahu nanti bisa belajar bikin blog spt "kembali ketitik nol". |
 | Coba lihat filmnya James Bond, Sean Conery : From Russia With Love, atau Arnold yang jadi Gubernur California dengan Red Heat nya, atau Bill Valmer, dengan The Saint nya atau yang paling fenomenal adalah Dr Zhivago dengan bintang Umar Sharif, keempat film tersebut dengan latar belakang Rusia dengan Kremlinnya yang terkenal ke penjuru dunia. Memang film-film lama, tapi menarik. Mungkin di You Tube ada atau di DVD ! Oya tentang ikanya, menarik, di Moskow orang makan ikan yang sudah di asin tanpa di goreng lagi, mereka makan mentah-mentah begitu saja dengan minumanya Wodka, ikan asin tersebut di jualnya bersama minuman, unik ya ? Dan kalau doyan, ada ikan yang hanya di kasih cuka dan garam sedikit, direbus setengah matang lalu di hidangkan, dan itu dihidangkan direstoran. Jenis ikan banyak, teri juga ada. Salam. |
 | Ass wr wb, Saya tertarik dengan cerita tukang mancing diatas, sabar, sabar dan sabar. Mancing di Indonesia modanyal sabar, namun mancing di Moskow, apa lagi di musim dingin, bagi yang hoby mancing, bukan hanya butuh kesabaran dan pancingnya, Namun mental yang kuat dalam menahan dinginnya suhunya, yang bisa lebih dari minus 20 derajat celicius dan perlu perlengkapan yang banyak. Dari mulai sepatu, jaket, topi, bor, termos air, kursi lipat, jaring, umpan dll. Pada saat mancing di atas sungai yang sudah membeku, semua tubuh kecuali muka! bayangkan betapa repotnya, tapi si pemancing sabar dan enjoy. Mungking kalau kita yang mancing, ikan belum dapat, kita sudah pinsan duluan saking dinginya ! Salam.  oh ya ya, ikan apa yang banyak di sungai-sungai di moskwa? Kalau bicara moskow jadi ingat lagunya "wind of change" follow the moskow, down to gorky park, listening to the wind of change... Salam balik. |
 | Ass wr wb, Saya tertarik dengan cerita tukang mancing diatas, sabar, sabar dan sabar. Mancing di Indonesia modanyal sabar, namun mancing di Moskow, apa lagi di musim dingin, bagi yang hoby mancing, bukan hanya butuh kesabaran dan pancingnya, Namun mental yang kuat dalam menahan dinginnya suhunya, yang bisa lebih dari minus 20 derajat celicius dan perlu perlengkapan yang banyak. Dari mulai sepatu, jaket, topi, bor, termos air, kursi lipat, jaring, umpan dll. Pada saat mancing di atas sungai yang sudah membeku, semua tubuh kecuali muka! bayangkan betapa repotnya, tapi si pemancing sabar dan enjoy. Mungking kalau kita yang mancing, ikan belum dapat, kita sudah pinsan duluan saking dinginya ! Salam. |
 | trimekasih balasan kunjungannya |
 | baca2 sekilas..tentang obama..hhmmmm |
 | iyong langgar-karanggude kang, wong lamuk ya kang>? perek banget ya? gawe nang endi rika kang? salam ya nggo wong baraling |
 | Apek-apek pak...... Ada kabar, Hudi per 5 Jan 2009 kemaren dikeluarin dari Dexa ama bos baru itu,,, Sampeyan Piye kabare pak?? Berkat sampeyan juga bulan kemaren saya tembus sales 90juta heheheheh... |
 | Selamat ulang Tahun Ya Kang!! selamat tahun baru...........perasaan semalem aku dah ngabsen ko ya. ternyata malah belum nyampe ke sini ngampurane Kang Iya bener aku tergabung di Milist PBG Kang Akmal pake nama siapa kali di milist ya? |
 | Terima kasih sudah mampir. Wah, banyak tulisan yg bisa saya baca di sini. Purbalingganya di mana, Mas Iman? |
 | Ass Wr Wb, Selamat untuk terus berkarya, dimanapun kita berada kita tetap di bumi Allah, Teruslah sampaikan walau hanya satu ayat, walau hanya satu kalimat ! Mari kita terus menjalin persaudaraan di manapun kita berada. Salam hangat selalu penuh persaudaraan dan persahabatan. Jabat erat tanganku, mari kita bergandengan tangan membina ummat yang penuh dengan tantangan, ujian dan cobaan. Mari kita berjuang dengan potensi kita masing-masing. Salam ! |
| |